Aku pikir, aku tidak perlu menyumpah untuk tahu kamu dalam keadaan buruk. Tapi rupanya, tembok imajiner yang kau bangun terlalu tebal untuk dihancurkan oleh kedengkian..atau tepatnya memang semata kebencian tanpa alasan yang harus terealisasikan. Meski artinya diperlukan penyembahan dan seserahan demi kelangsungan kehancuran! Celakalah kamu, Sayang. Melangkahlah bersama-sama api yang tidak sepanas api neraka, karena memang kebencianku tidak sampai mengasap-asap. Aku hanya butuh kamu celaka. Celakalah, kamu. Terima kasih.
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!