Mereka, penanya yang suci :
"Kenapa kamu tetap dalam geming?"
Aku, penjawab yang nista :
"Karena aku tergagap dalam iang."
Mereka, penanya yang suci :
"Kenapa kamu membeku pandang?"
Aku, penjawab yang nista :
"Karena liuk fatamorgana selamanya rupa euphoria."
Mereka, penanya yang suci :
"Kenapa kamu tersenyum di malam hari?"
Aku, penjawab yang nista :
"Karena duka lelah memeluk dan melepas hunus belati."
Mereka, penanya yang suci :
"Kenapa kamu tidak bergantung pada Tuan?"
Aku, penjawab yang nista :
"Karena Tuanku hanya menagih janji sepihak."
Mereka, penanya yang suci :
"Kenapa kamu tidak melahap temaram?"
"Kenapa kamu membiarkan aku pulang?"
"Kenapa sang dahsyat mengecil raga?"
Aku, penjawab yang nista :
"Karena aku lahir dari sumbu malam."
"Karena aku mencecap setiap yang kamu telan."
.
.
.
"Karena Kricika lemah hendak kehilangan bintangnya."
Mereka, penanya yang suci :
.
.
.
"Dasar bodoh. Pakailah tongkat."
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!