Rabu, November 11, 2009

Penanya yang Suci, Penjawab yang Nista

Mereka, penanya yang suci :
"Kenapa kamu tetap dalam geming?"

Aku, penjawab yang nista :
"Karena aku tergagap dalam iang."

Mereka, penanya yang suci :
"Kenapa kamu membeku pandang?"

Aku, penjawab yang nista :
"Karena liuk fatamorgana selamanya rupa euphoria."

Mereka, penanya yang suci :
"Kenapa kamu tersenyum di malam hari?"

Aku, penjawab yang nista :
"Karena duka lelah memeluk dan melepas hunus belati."

Mereka, penanya yang suci :
"Kenapa kamu tidak bergantung pada Tuan?"

Aku, penjawab yang nista :
"Karena Tuanku hanya menagih janji sepihak."

Mereka, penanya yang suci :
"Kenapa kamu tidak melahap temaram?"
"Kenapa kamu membiarkan aku pulang?"
"Kenapa sang dahsyat mengecil raga?"

Aku, penjawab yang nista :
"Karena aku lahir dari sumbu malam."
"Karena aku mencecap setiap yang kamu telan."
.
.
.
"Karena Kricika lemah hendak kehilangan bintangnya."

Mereka, penanya yang suci :
.
.
.
"Dasar bodoh. Pakailah tongkat."

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!

© Tulisanku!
Maira Gall