Kamis, November 19, 2009
Hujan!
Aku menunggu hujan selesai. Dan aku adalah penunggu, atau bahkan babu setia bagi hujan. Entahlah, aku memang cukup mencintai hujan. Yah, sejujurnya aku tidak suka hujan, tapi aku benci payung. Maka, aku putuskan saja untuk mencintai hujan. Toh, hujan mampu menjamahku pada sisi-sisi unik yang melebar. Aku selalu mencium bau hujan. Bau tanah. Bau tujuan terakhir. Dan mungkin juga bau awan, tapi awan tidak pernah jatuh untuk kucoba makan. Gula-gula kapas teori awan? Kuhisap tanpa menelan dan akhirnya menjadi partikel tua? Entahlah. Yang penting, aku cinta hujan. Terutama hujan malam. Dingin, romantis, dan melankolis. Aku bisa bermasohis tanpa ada yang mendengar aku meringis, karena hujan setia memalsukan apa yang dihasilkan makhluk tidak penting. Dan bila aku menerjang bersama hujan, maka aku akan kembali tanpa aliran yang ketahuan. Hanya akan ada bekas, dan aku bisa beralasan. Hei hujan, memangkah benar kau suci, atau tidak?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!