Aku yang diam, Sayang.
Karena bicara hanya mengundang lebih lagi dosa.
Karena yang mengenal maka akan terluka.
Karena semua dicipta untuk dirusak.
Karena hidup hanya menunggu kalah.
Mari, berhitung.
Satu, dua, tiga..,
dan aku pasti akan terus diam.
Mungkin hingga hitungan kesepuluh,
atau bahkan kedua-puluh.
Lalu aku akan semakin menepis hati.
Karena aku hanya milikku, di waktu apa pun.
Di hitungan mana pun.
Hingga semua kembali mundur,
dan kau tidak tahu apa yang ada di hadapan.
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!