Senin, November 09, 2009
Hasil
Apa yang miris, sekira menelaah rinding serapah serupa doa maha bijak. Sementara lisan yang tersebut kini terbawa angin untuk tidak pernah hilang dan akan terus melambai-lambai demi hadirnya kesenjangan. Kemudian, buah pengetahuan akan mengarum-manis untuk membanjir sekulerisasi yang sempat terkubur oleh ajaran Pengkarya. Tapi tak akan ada sudut benci yang muncul, Sayang. Busur imajiner dalam beludru menyerang-mengerang, menjatuhkan-membangunkan. Ketipisan dunia lantas membuka selaput dari apa daya-gaya yang menameng jejas dengan alas. Ssst, ucaplah mutiara dari harta karun dengan bisik atau teriak. Sepantasnya yang kamu baca menenun kesalahan terbesar dan tak ada yang kamu genggam selain nol kecil merah, mencair untuk pelepas dahaga. Panggil aku! Sebelum aku mati karena terdiam seribu tahun.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!