Dia mentitah kepadaku,
"Aku bersedih. Pergilah dari sini, aku mau sendirian. Hatinya yang sedih."
Aku bilang,
"Aku juga sedih. Dan aku tidak mau pergi. Aku suka di sini."
Dia mentitah lagi,
"Tapi aku dan kamu beda. Sedih orang dewasa jauh lebih berat dari pada anak kecil."
Aku bilang,
"Tapi tadi kamu tertawa-tawa."
Dia membangga,
"Aku tidak memperlihatkan kesedihan pada orang lain. Aku orangnya begitu."
Aku menyahut kepadaNya dan kepada dia,
"Ah! Semoga aku mati muda, agar tidak merasa sedih dewasa yang kehilangan sadar atas adanya jiwa pada tiap hati anak-anak."
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!