Sabtu, September 12, 2009

Surat Untuk Ayah

12 September, 12.31

Biarkan aku berkata terus terang, aku sudah lelah. Aku ingin menunjukkan pada dunia seperti apa yang aku rasakan, meski itu berarti memperburuk namamu. Tapi ini lah yang terus mendera dan membuatku menderita, maka salahkan dirimu bila tidak suka. Boleh juga menyalahkan aku, asal dengan cara membinasakan aku. Karena aku ini lemah.

Hei, ayah.

Terima kasih telah mengurusku sedari kecil. Memberikan segala kebutuhan, bahkan hingga yang tidak aku perlukan. Terima kasih telah menemaniku melewati malam-malam ketika kecil, karena pada masa itu aku tidak menerima kasih sayang bunda yang selalu pergi meninggalkan aku.

Terima kasih telah menciptakan masa kecil yang cukup menyenangkan, di mana keharmonisan keluarga adalah nomor satu. Dan juga untuk segala kesediaannya untuk berlelah-lelah mengabulkan apa yang aku inginkan. Terima kasih atas segala kebanggaan yang ayah beri, meski tidak teriring dengan kepercayaan.

Hei, ayah.

Remaja ini telah aku habiskan dengan rasa ketakutan hidup bersamamu. Tidak mungkin lah aku pernah lupa teriakan-teriakan hingga darahmu yang membahana di setiap sudut rumah. Dan aku tidak akan melupakan itu, karena pasti akan tiba suatu hari nanti aku mempublikasi apa yang telah menimpaku. Seperti saat ini, misalnya.

Tentunya ayah salah apabila menyakiti diri sendiri itu merupakan bukti sayang. Oh, mungkin memang dirimu yang psikopat? Tapi aku juga akan selalu mengingat beragam tindakan kasarmu, lengkingan suaramu yang sungguh membuatku gila, dan masih banyak lagi. Tidak ada yang lebih berbekas selain hal-hal itu. Mungkin, cukup lucu.

Hei, ayah.

Bukankah ayah sudah memilih perempuan itu? Bukankah ayah telah menyumpah-serapah aku? Bukankah ayah berkata bahwa tidak akan peduli lagi? Ketika itu mungkin ayah berada di bawah kendali setan, tapi aku tetap tidak akan pernah membuang memori itu. Akan tetap tersimpan dalam ingatan di baris depan! Dan suatu saat akan menjadi peluru yang siap menghantam.

Jangan pernah paksa aku atau siapa pun bersanding denganmu. Karena aku tidak akan lebih berharga dari keluarga perempuan itu. Jangan munafik. Jangan jilat ludahmu sendiri.

Hei, ayah.

Bukannya aku membenci ayah. Bukannya aku tidak memaafkan ayah. Aku hanya ingin ayah mentaati apa yang telah ayah katakan. Aku tahu bahwa ayah sadar seruan-seruan itu tidak baik, dan mencoba memperbaiki. Tetapi aku di sini bersama yang lain telah memiliki kehidupan baru yang berusaha untuk dimajukan. Setelah kenangan masa lalu yang buruk, dan yang mencipta sugesti terbesar dalam kehidupan.

Sampai kapan aku harus depresi? Aku tidak tahan lagi. Aku menyayangi ayah, tapi ayah tidak pernah paham apa itu bentuk kasih sayang. Psikolog yang ayah beri hanya mendukung ayah, karena mereka hanya melihat dari sisi ayah. Apa bila ayah merasa ayah kesepian, bukankah ayah punya keluarga baru? Urus saja mereka. Dahulu kan, ayah mau membunuhku demi mereka. Meski aku tahu, ayah berada di bawah kendali setan dan sedang dalam keadaan terpojok.

Hei, ayah.

Dari lubuk hati paling dalam, aku sangat menyayangimu. Entah karena sudah merupakan kewajiban atau apa. Tapi ayah telah membuat aku kecewa. dan hati yang luka tidak bisa sembuh dengan semudah itu. Apalagi ayah masih terus membayang-bayangi, di saat aku ingin sendiri saja.

Aku ingin mati. Karena kematianku pasti bisa membuka mata ayah. Betapa aku dan yang lain sangat tertekan. Bukankah jadinya aku bisa menolong ayah juga? Nah, doakan lah agar hatiku mantap untuk bunuh diri.

Hei, ayah.

Ayah paham perasaanku. Pasti paham. Tapi ayah mengulanginya. Dan aku ucapkan terima kasih lagi, ayah telah membentuk aku menjadi anak yang cukup dewasa.

Maaf aku menulis ini. Yang aku rasakan sekarang adalah aku ingin hidup nyaman.

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!

© Tulisanku!
Maira Gall