Sabtu, Agustus 08, 2009
Mainkan Permainan
Aku pemain cinta, budak-budak cinta. Kami para pecinta, haus cinta rindu dicinta. Tetapi kau sebut cinta itu permainan, dan kami menjadi bidak-bidak caturmu, dalam papan kehidupan cinta hitam-putih. Sepantasnya dengan cintamu yang tak pernah berubah warna, tak pernah merah seakan darah. Hanya hitam putih. Permainan logika. Menang senang, kalah bersumpah. Anggur-anggur cinta tak lagi memanis, mereka memahitkan segala asa dalam jiwa. Menggelapkan segala mata dalam diriku sang pemain cinta, mereka sang pecinta. Kau tak biarkan kami lepas dahaga, kau sengaja menduka kami dalam kubang kecemburuan. Sampai kapan kita bermain? Budak-budakmu masih setia menunggu, air mata cinta mereka bertumpah ruah dalam cawan emas imitasi, seolah menangisi kebohongan dari godaan-godaan cinta darimu. Aku mencoba menolong mereka dari jurang kesedihan cinta, tetapi kau terus mengulang, mengulang, dan mengulang permainan hingga aku harus pergi untuk kembali menggapai peranku. Kau tertawa bersama langit malam. Membicarakan cinta, bidak catur cintamu. Tidakkah kau sadar betapa dirimu begitu hitam?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Saya menunggu komentarmu, terima kasih perhatiannya!